Sementara Aku..

Arga tiba-tiba bangkit dari tidur nyenyaknya dan berlari melesat ke teras kamarnya yang terletak di lantai dua. Begitu juaga Suryo. Dia terahir kuingat duduk manis di depan leptopnya dengan stick game di tangan. Angga dan Jumanto yang memang dari tadi pagi duduk dengan seksama menghadap tumpukan buku-buku rujukan buat sekripsi pun begitu. Mereka tinggalkan begitu saja barang-barang berserakan ini. Sekilas Jumanto yang berlari keluar mengikuti ketiga temannya kembali ke dalam mengambil satu buku kemudian keluar lagi. Sementara aku..?

Kami berlima dari malam sudah mendekamkan diri di kamar Arga dengan urusan masing-masing. Hari minggu hampir menjadi ritual rutin menghabiskan diri bersama komplotan di ruangan berukuran 5 x 7 meter lantai dua rumah ini. Kamar Arga.  Tapi beberapa detik di tengah siang itu hampir merubah jalan hidup kami.

Gempa terjadi. Goncangan ringan bumi di kala itu terasa menggugah kalbu untuk menguak siapa diri ini. Ternyata kami masih takut mati. Bukankah hidup ini untuk mati. Continue reading

Advertisements

Arti 90 Tahun PMDG untuk Kekinian

Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan salah satu lembaga pendidikan yang masih kukuh memegang khittah kemanusiaan. Sepanjang perjalanannya, PMDG tetap konsisten membentuk pribadi-pribadi yang mengerti arti kemanusiaan yang haqiqi. Seluruh elemen yang mempengaruhi proses penyelenggaraan pendidikan di PMDG sepenuhnya tertuju dan mendukung tujuan tersebut. Sehingga terjadi kesinambungan dalam proses pendidikan  yang terus berlanjut dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Khittah kemanusiaan adalah pengabdian diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu, seluruh bentuk pendidikan di PMDG yang sangat beragam memiliki keterkaitan dengan pembentukan pribadi yang terus menghamba kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Untaian doa terus dilakukan sebelum, sepanjang, dan sesuadah kegiatan-kegiatan di pondok. Hal ini telah menjadi kebiasaan yang mandarah daging bagi siapa saja yang pernah menamatkan pendidikan di sana.

Di satu sisi, Pondok memahami tabiat dasar kemanusiaan sebagai makhluk sosial. Maka pendidikan kemasyarakatan menjadi satu hal yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan di PMDG. Para santri dididik menjadi pemimpin sehingga ketika terjun kemasyarakat bisa menjadi bergerak di tengah-tengah masyarakat. Dan setelah menamatkan jenjang pendidikan KMI, ada suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap santri dengan melakukan pengabdian satu tahun. Ini adalah bentuk dakwah permulaan sekaligus pembelajaran kedewasaan. Karena kelak dakwah Continue reading

Ingkarus Sunnah Perusak Al-Qur’an

Blog Abu Umamah™

Tafsir Ayat:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“… Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu (Nabi) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. an-Nahl [16]: 44)

Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua wahyu yang tidak bisa dipisahkan. Barangsiapa berpegang pada salah satunya saja dengan meninggalkan yang lain, sungguh dia telah tersesat. Ironisnya, ada sebagian kalangan yang merasa cukup dengan al-Qur’an, tidak mau mengambil as-Sunnah. Merekalah kaum Qur’aniyyun alias Inkarus Sunah.

Syaikh Abdul Wahhab bin Abdul Jabbar ad-Dahlawi rohimahulloh berkata: “Musibah yang menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang ialah tersebarnya kelompok yang berpegang hanya kepada al-Quran dan menolak hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam yang mutawatir. Musibah ini melanda negeri-negeri Islam, khususnya India. Mereka mempunyai organisasi yang menamakan dirinya “Ahlu al-Qur’an”. Mereka sebarkan pemahaman ini lewat tulisan, brosur, dan majalah India. Akan tetapi, mereka telah dibantah oleh para ulama…

View original post 4,040 more words

Manfaat Mengetahui Asbabun Nuzul

الـمـنــــار Media Da'wah Islam

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa ilmu Asbabun Nuzul tidak ada gunanya dan tidak ada pengaruhnya karena pembahasannya hanyalah berkisar pada lapangan sejarah dan ceritera.Menurut anggapan mereka ilmu Asbabun Nuzul tidaklah akan mempermudah bagi orang yang mau berkecimpung dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Anggapan tersebut adalah salah dan tidaklah patut didengar karena tidak berdasarkan pendapat para ahli Al-Qur’an yang dikenal dengan ahli tafsir.

View original post 1,243 more words

Tinjauan Singkat Komunisme

Salah satu sejarah terkelam yang pernah dialami bangsa Indonesia adalah peristiwa 30 September 1965. Sudah lima puluh tahun lebih, peristiwa ini masih menyimpan banyak misteri juga sekaligus pelajaran yang harus terus ditilik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Satu yang pasti dari peristiwa ini adalah pembunuhan perwira angkatan darat tersebut dilakukan oleh orang-orang yang berlatarkan ideologi komunisme. Dan melihat fenomena yang terjadi dewasa ini, kewaspadaan harus kembali ditingkatkan untuk membendung ideologi yang diam-diam mulai merambah kembali ke dalam beberapa lapis masyarakat, baik kalangan bawah maupun elit ini. Maka umat Islam harus benar-benar tahu dan mengerti bagaimana Islam memandang paham komunisme ini.

Sebagaimana diketahui, komunisme adalah suatu ideologi dan system ekonomi dengan gagasan kepemilikan pribadi yang harus dibatalkan dan dibabat habis dalam masyarakat. Seluruh kekayaan harus didapat oleh setiap orang dan diatur oleh negara, karena negara adalah wakil sah masyarakat. Sehingga negaralah yang berhak mengatur dan mengeksploitasi kekayaan untuk kesejahteraan seluruh penduduk. Barang-barang yang dihasilkan didistribusikan sesuai dengan kebutuhan individu untuk dikonsumsi. Pendapat ini diringkas dalam teks sebagai berikut: “dari setiap orang, sesuai dengan kapasitasnya, dan buat semua orang, sesuai dengan kebutuhannya”. Dengan kata lain, setiap individu memiliki kebutuhan sama, yang bila dicabutnya dia tak akan bisa bertahan hidup. Dia memberikan seluruh pengabdiannya untuk masyarakat; pada gilirannya, masyarakat memuaskan kebutuhan kehidupannya dan mendukung kehidupannya. Dan hal itu semua harus dilaksanakan berdasarkan rencana ekonomi yang dibuat negara. Dalam perencanaa ini, negara mengakurkan kebutuhan seluruh penduduk dengan kuantitas, ragam, dan batas produksi, supaya mencegah masyarakat menderita kesakitan kesulitan sebagaimana yang terjadi pada masyarakat kapitalistis ketika kebebasan absolut dibolehkan. (Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna, 2014: 44-45).

Pada dasarnya, faham komunisme adalah suatu gagasan untuk untuk penyamarataan manusia dalam segala macam aspeknya. Gagasan ini sebenarnya merupakan reaksi alami terhadap komplikasi kepemilikan pribadi dalam system demokrasi kapitalis. Kemudian dibentuk nasionalisasi absolut dengan tujuan menghapus kelas kapitalistis dan menyatukan masyarakat dalam satu kelas, supaya mengakhiri pergumulan dan untuk mencegah individu dari upaya menggunakan berbagai taktik dan metode untuk membesarkan kekayaannya, dalam memaskan kerakusannya dan melenyapkan motif yang mendorongnya untuk mendapat keuntungan pribadi. Dengan begitu, kesenjangan yang jauh antara yang kaya dan yang miskin seperti yang terdapat dalam masyarakat kapitalis dapat dihindari.

Sekilas tujuan komunisme tergambarkan sebagai tujuan yang baik dengan ditiadakannya kelas-kelas sosial di masyarakat. Tapi jika ditelusuri lebih jauh, faham memiliki konsekuensi-konsekuensi yang sangat buruk dan berbahaya. Pertama, permasalahan yang menjadi titik tekan faham komunisme hanya masalah keduniaan. Hal ini karena akar dari faham ini adalah seorang filosof yang menganggap agama sebagai candu. Dia menganggap agama adalah penghambat kemajuan dimana pencarian harta yang seharusnya dilakukan oleh seseorang dapat digantikan dengan doa. Maka dalam faham komunisme, agama harus ditiadakan, ini seperti yang dulu terjadi di Albania dan negara-negara jajahan Uni Soviet lainnya.

Kedua, pemaksaan ideology kemunisme ini untuk diterapkan. Paksaan ini bisa menjurus pada kebengisan para pengusungnya kepada siapa saja yang menolak. Sebagaimana diketahui jumlah pembantaian manusia terbanyak dalam sejarah umat manusia dilakukan oleh faham ini. Dan salah satu dari korban tersebut adalah Pahlawan Revolusi Republik Indonesia dalam peristiwa 30 September 1965.

Ketiga, penyamarataan manusia dalam seluruh aspek kehidupan meskipun diatur sedemikian rupa oleh negara menyalahi sunnatullah. Karena satu dan lain hal, manusia yang satu tidak akan pernah bisa disamakan dengan yang lainnya. Seorang yang bekerja dengan giat dan mengerahkan sekuat tenaga tidak akan pernah bisa disamakan dengan para pemalas. Allah SWT berfirman:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ – الزخرف: 32

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ – النحل: 71

            Apalagi dalam aspek pemikiran, kejiwaan, dan spiritual, kesamarataan tidak mungkin terjadi. Kesenjangan antar individu adalah suatu fitrah kemanusiaan. Seperti yang dituturkan Al Quran bahwa tidaklah sama orang yang mengetahui dan yang tidak menengetahui. Maka pengekangan yang dilakukan komunisme menghambat potensi manusia sebagai khalifah di bumi. (Abbas Mahmud Al ‘Aqqod, Al Falsafah Al Quraniyah, 31-34)

Oleh sebab itu, perbedaan antara satu orang dengan lainnya mendapat perhatian serius dalam Islam. Sebagaimana perbedaan tersebut, jika hanya bersifat materi bukanlah segala-galanya, karena yang paling utama adalah perbedaan ketakwaan. Namun begitu, Islam juga mengatur perbedaan materi-materi tersebut agar tidak terjadi kesenjangan yang berkelanjutan – seperti dalam tatanan hidup kapitalis – dengan diturunkannya syari’ah sebagai panduan yang mengantar pada sebaik-baiknya jalan kehidupan. Maka dalam Islam dijumpai berbagai aturan mua’amalah antar sesama, seperti dalam masalah jual beli, simpan meminjam, hutang piutang, dan lain sebagainya. Bahkan salah satu tiang bangunan keislaman sendiri adalah zakat, keharusan penyaluran harta dari yang kaya kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Maka apa yang dianggap oleh pengusung faham komunisme sebagai permasalahan masyarakat sebenarnya sudah jauh-jauh hari dijawab Islam ketika agama ini dengan syariatnya yang lengkap diturunkan.

Nasehat Abadi

NASEHAT ABADI
KH. Hasan Abdullah Sahal

Santriku…
semoga tatkala pesan-pesanku ini mulai kau baca, hatimu masih benderang dengan cahaya rahmat Ilahi, hingga tak ada sebutir debupun melekat di hatimu, menutupi nuranimu untuk menerima secercah cahaya ini.

Santriku…
ketahuilah!
Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di seluruh jagat raya ini sudah diatur secara tertib oleh Allah.
Tebarkanlah pandanganmu maka akan kau saksikan betapa indahnya paduan gunung, lembah, dan ngarai serta luasnya bentangan samudera.

Juga matahari, bulan, bintang dan sejumlah gugusan planet lainnya, semua begitu indah dan tertib, tertata sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.
Maka, hendaklah manusia berusaha supaya menjadi tertib, dalam karsa, rencana, dan atau kehidupannya.
Dan janganlah sekali-kali mencoba untuk memaksakan tertib programmu pada Allah.

Sebab,jika kau lakukan itu, maka yang akan kau dapati hanyalah keresahan, pahitnya kekecewaan, pedihnya kehancuran, kecongkakan dalam kebodohan, kesombongan atas kesintingan dan kebanggaan lantaran kegilaanmu atau sebaliknya berlagak jagoan ekstra superiority atau bertampang cakil menjual pepsodent.
Dan penyakit inilah yang banyak melanda manusia di abad modern ini.

Santriku…
seiring perjalanan waktu, suatu saat nanti kau akan meninggalkan pondokmu ini untuk terjun ke tangah-tengah kehidupan masyarakatmu kelak, berbaur dengan aneka ragam pola kehidupan.

Harapanku, pandai-pandailah kau membawa diri berbuat baik di bumi mana kakimu berpijak.
Selama ini aku memang menyaksikan bahwa kau telah berbuat baik, mentaati segala petuah dan nasehat kyaimu, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, namun yang aku khawatirkan adalah, jika kau berbuat semua kebajikan itu hanyalah di tengah-tengah milliu yang baik saja, sementara ketika kau telah terjun ke dalam milliu yang berlainan, jadi berubah keadaannya.

Padahal, berbuat baik itu harus bisa kau lakukan di manapun dan kapanpun.
Pada saat itulah kepribadianmu akan diuji, dan di situlah kepribadianmu akan dipecat atau dipertahankan oleh dirimu sendiri atau oleh masyarakatmu dengan segala norma-normanya.

Itulah yang paling aku khawatirkan.
Aku takut jika derasnya gelombang kehidupan di masyarakatmu kelak akan menyeret dan menjerumuskanmu ke lembah nista.

Telah kau sadari bahwa orang baik yang bertempat sampah sekalipun akan berjasa dan mulia karena ia telah menyingkirkan sampah yang mengganggu masyarakat. Namun sebaliknya, orang yang jahat sekalipun bertahta di tempat terhormat ia adalah perusak dan pengacau masyarakat. Karena ia sebetulnya adalah sampah.

Santriku…
ketahuilah, bahwa kini, di abad modern ini, setan-setan dengan segala bentuk dan macamnya telah bergentayangan di mana-mana dan untuk berkawan dengan mereka, kau tak perlu belajar ataupun berlatih.

Dan godaan setan itu sungguh akan memikat hatimu. Ia tidaklah akan berhenti pada sasaran tertentu, golongan tertentu, dan juga waktu serta tempat tertentu. Maka berhati-hati dan waspadalah santriku terhadap itu semua. Janganlah sekali-kali kau mengira bahwa tingginya ilmu dan jabatan seseorang akan sekali tinggi pula godaan dan rayuan setan itu.

Kyai dan ulamapun tak terhindar dari obyek dan setan-setan.

Santriku…
kuharap kau tak hanya bisa menerangi dirimu sendiri, tapi kau juga bisa menyinari ummat dengan cahaya yang memancar dari ilmu-ilmu Allah.
Karena sesungguhnya tiadalah berguna ilmu seseorang itu jika tak dimanfaatkan bagi dirinya dan ummatnya.
Do’aku semoga kau memahami seuntai pesan-pesanku ini.
Aamiiin…….