Lagi

Mukena merah itu menghantuiku dengan parasnya yang sederhana. Tapi ini tidak membuatku takut. Hanya sedikit kekhawatiran dan malu. Khawatir karena tidak pasti. Malu karena itulah aku.

Berharap setiap senja yang kulalui disambutnya. Kalaupun tidak, berharap ia tetap di sana dengan bersahaja. Menekuni kata-kata Ilahi dengan khidmat. Berharap ia tidak pergi. Sehingga suatu saat ketika aku mampu menyapanya dia masih ada. Masih ada di sana dan menolehkan wajahnya yang biasa kepadaku. Mungkin dengan sedikit senyum atau anggukan, itu sudah lebih dari cukup.

Harapan adalah hal yang baik, meski terkadang masih sangat jauh dari kenyataan. Itu tadi harapanku sementara ini, entah harapannya.. Bisa jadi ia enggan dengan sekali dua kali tatapanku. Kemudian ia berharap untuk cepat-cepat pergi. Jika itu terjadi, maka aku hanya akan diam menyesali perbuatanku yang telah mengganggunya. Aku berharap dia memaafkanku.

Tidak ada masalah yang berarti jika benak kita terbuka pada segala kemungkinan dengan sudut pandang yang lebih luas dan lebih tinggi. Itulah yang ingin kukatakan padanya suatu saat nanti. Tidak ada yang lebih berarti dari kata sepahaman antara kita dengan apa yang digariskan sang Nabi dan Tuhan. Masalah remeh temeh tidak perlu membawa pada pertentangan. Aku ingin mengajaknya untuk memahami itu.

Tapi sebelum itu, kata cinta harus dia sepakati. Memulai dengan cinta, menjalani dengan cinta, dan mengakhiri nanti dengan cinta. Dan memulai inilah yang tersulit. Keoptimisanku untuk melangkah selalu dihantui dengan kekhawatiran tadi. Penyesalan yang kutakuti tidak cukup untuk mendorongku merangkul takdir cinta.

Apakah ini hanya akan jadi nostalgia khayalan lagi? Seperti akan hanya menjadi angan untuk bisa berdansa bersama…..

Sementara, perjalanan ini akan terasa sangat lambat. Aku ingin menikmatinya.. lagi.. Membuatnya kisah-kisah yang mengena di hati. Untuk diriku sendiri. Atau siapa saja yang membacanya. Bahwa pernah ada cerita cinta di hati seorang biasa dengan harapan-harapannya yang tidak biasa.

Sekarang, aku ingin kembali ke tempat itu dengan niat suci. Mengentaskan fitrah dari kegelapan yang mulai membayangi. Menyuburkan lahan-lahan kebaikan pada pribadi-pribadi generasi yang akan datang. Membantu menuntaskan cita-cita kemanusiaan haqiqi. Menjaga martabat bangsa dengan kemuliaan yang terwarisi. Yaitu kembali menekuni pesan dari guru-guru yang terdahulu.

Aku berharap dia juga begitu.

Karena kelak cita-cita kebaikan akan bertemu.

Advertisements

What Do I Do ??

Lama tidak berkunjung ke blog ini, ingin rasanya menuangkan beberapa kalimat untuk bahan diskusi. Tentunya diskusi dengan diri sendiri. Karena katanya, nasehat tercepat yang bisa masuk ke dalam diri seseorang adalah nasehat dari dirinya sendiri. Hehehe…

Postingan ini akan dimulai dengan pertanyaan what do I do?? Dan berikut pengantar dan penjelasannya..

Setelah lulus sekitar satu setengah tahun yang lalu, kemudian enam bulan kelas intensif tambahan yang luar biasa, kini berarti genap satu tahun di rumah. Rumah, tempat masa kecil dulu, ditinggalkan ketika remaja sampai beranjak dewasa, sekarang kembali menghuninya. Dan tak terasa proses penyesuaian diri setahun yang lalu kini telah menyatu dengan lingkungan.

Dan untuk menjawab pertanyaan di atas adalah satu hal, saat ini saya sedang membangun. Membangun banyak hal, kebanyakan adalah ide-ide di kepala untuk terealisasikan di dunia nyata. Di sela-sela proses ‘pembangunan’ tersebut, alhamdulillah selama setahun ini banyak yang bisa dikerjakan. Membantu orang tua, membuka usaha sendiri, mengajar atau tepatnya membantu mengajar, dll.

Hidup adalah tentang perubahan, tidak ada satupun yang tetap sama, begitulah kehidupan mengajari kita. Setelah satu tahun keadaan mulai stabil, orang tua, keluarga, rumah, pekerjaan, kesibukan-kesibukan harian, teman-teman sepakbola ketika sore, kini keinginan untuk melanjutkan sekolah ada lagi. Mengambil S2. Walau ilmu itu bisa didapat di mana saja, tapi keinginan untuk menuntut ilmu melalui sekolah formal dengan menuntaskan seluruh perjenjangannya (entah ini kata atau bukan) selalu ada.

So.. I make a target or a plan or a prospect. Pertengahan 2019 mendaftarkan diri, entah di mana, yang pasti linier (tidak mengambil ilmu hitam/ilmu perdukunan hehehe…). Namanya juga target, ya bagaimana lagi, kalau melenceng ya bagaimana lagi. Seperti halnya dulu mentargetkan untuk pergi ke Rusia 2018 untuk menyaksikan FIFA World Cup yang sekarang tergeser – karena tidak tercapai – menjadi Qatar musim dingin 2022. Dan ini juga termasuk bagian dari proses ‘pembangunan’ itu.

Selanjutnya..

Lalu kapan nikah?? Pertanyaan klasik. Hahaha… Seorang pria berumur 26 tahun yang tidak memiliki tangan untuk digenggam atau terkadang digandeng. Sungguh malang nasib ini, hahaha… Tapi tak apa. Insyaallah..  ia akan datang, mungkin dengan cinta mungkin tidak. Dan jikalaupun tidak, tak perlu khawatir, karena Allah SWT akan membuatkan cinta bagi orang yang beriman dan beramal shalih [Maryam 96].

Dan inilah.. atau itulah… apa yang saya lakukan saat ini. Semoga bermanfaat..

Thank you for coming and please come again.

20170501_110440.jpg

Sementara Aku..

Arga tiba-tiba bangkit dari tidur nyenyaknya dan berlari melesat ke teras kamarnya yang terletak di lantai dua. Begitu juaga Suryo. Dia terahir kuingat duduk manis di depan leptopnya dengan stick game di tangan. Angga dan Jumanto yang memang dari tadi pagi duduk dengan seksama menghadap tumpukan buku-buku rujukan buat sekripsi pun begitu. Mereka tinggalkan begitu saja barang-barang berserakan ini. Sekilas Jumanto yang berlari keluar mengikuti ketiga temannya kembali ke dalam mengambil satu buku kemudian keluar lagi. Sementara aku..?

Kami berlima dari malam sudah mendekamkan diri di kamar Arga dengan urusan masing-masing. Hari minggu hampir menjadi ritual rutin menghabiskan diri bersama komplotan di ruangan berukuran 5 x 7 meter lantai dua rumah ini. Kamar Arga.  Tapi beberapa detik di tengah siang itu hampir merubah jalan hidup kami.

Gempa terjadi. Goncangan ringan bumi di kala itu terasa menggugah kalbu untuk menguak siapa diri ini. Ternyata kami masih takut mati. Bukankah hidup ini untuk mati. Continue reading

Arti 90 Tahun PMDG untuk Kekinian

Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan salah satu lembaga pendidikan yang masih kukuh memegang khittah kemanusiaan. Sepanjang perjalanannya, PMDG tetap konsisten membentuk pribadi-pribadi yang mengerti arti kemanusiaan yang haqiqi. Seluruh elemen yang mempengaruhi proses penyelenggaraan pendidikan di PMDG sepenuhnya tertuju dan mendukung tujuan tersebut. Sehingga terjadi kesinambungan dalam proses pendidikan  yang terus berlanjut dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Khittah kemanusiaan adalah pengabdian diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu, seluruh bentuk pendidikan di PMDG yang sangat beragam memiliki keterkaitan dengan pembentukan pribadi yang terus menghamba kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Untaian doa terus dilakukan sebelum, sepanjang, dan sesuadah kegiatan-kegiatan di pondok. Hal ini telah menjadi kebiasaan yang mandarah daging bagi siapa saja yang pernah menamatkan pendidikan di sana.

Di satu sisi, Pondok memahami tabiat dasar kemanusiaan sebagai makhluk sosial. Maka pendidikan kemasyarakatan menjadi satu hal yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan di PMDG. Para santri dididik menjadi pemimpin sehingga ketika terjun kemasyarakat bisa menjadi bergerak di tengah-tengah masyarakat. Dan setelah menamatkan jenjang pendidikan KMI, ada suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap santri dengan melakukan pengabdian satu tahun. Ini adalah bentuk dakwah permulaan sekaligus pembelajaran kedewasaan. Karena kelak dakwah Continue reading

Ingkarus Sunnah Perusak Al-Qur’an

Blog Abu Umamah™

Tafsir Ayat:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“… Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu (Nabi) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. an-Nahl [16]: 44)

Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua wahyu yang tidak bisa dipisahkan. Barangsiapa berpegang pada salah satunya saja dengan meninggalkan yang lain, sungguh dia telah tersesat. Ironisnya, ada sebagian kalangan yang merasa cukup dengan al-Qur’an, tidak mau mengambil as-Sunnah. Merekalah kaum Qur’aniyyun alias Inkarus Sunah.

Syaikh Abdul Wahhab bin Abdul Jabbar ad-Dahlawi rohimahulloh berkata: “Musibah yang menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang ialah tersebarnya kelompok yang berpegang hanya kepada al-Quran dan menolak hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam yang mutawatir. Musibah ini melanda negeri-negeri Islam, khususnya India. Mereka mempunyai organisasi yang menamakan dirinya “Ahlu al-Qur’an”. Mereka sebarkan pemahaman ini lewat tulisan, brosur, dan majalah India. Akan tetapi, mereka telah dibantah oleh para ulama…

View original post 4,040 more words

Manfaat Mengetahui Asbabun Nuzul

الـمـنــــار Media Da'wah Islam

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa ilmu Asbabun Nuzul tidak ada gunanya dan tidak ada pengaruhnya karena pembahasannya hanyalah berkisar pada lapangan sejarah dan ceritera.Menurut anggapan mereka ilmu Asbabun Nuzul tidaklah akan mempermudah bagi orang yang mau berkecimpung dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Anggapan tersebut adalah salah dan tidaklah patut didengar karena tidak berdasarkan pendapat para ahli Al-Qur’an yang dikenal dengan ahli tafsir.

View original post 1,243 more words